Pedoman Pewawancara
Hal-hal poko yang perlu di perhatikan dan dipelajari oleh pewawancara adalah sebagai berikut:
Alat-alat yang perlu dipersiapkan:
1.Buku catatan saku (bagi pewawancara pria).
2.Buku catatan ukuran sedang.
3.Pensil lebih dari 1 (2 atau 3). Selalu gunakan pensil, agar dapat dihapus kalau salah.
4.Karet penghapus(setip).
5.Pengasah Pensil.
6.Kuesioner ekstra, sebagai cadangan kalau rusak.
7.Stofmap plastik.
8.Hardboard untuk menulis, kalau dirasa perlu.
9.Surat pengantar atau surat keterangan diri.
10.Surat izin survai.
11.Daftar Responden.
12.Peta.
http://mediakita07.blogspot.com/
Kode etik Pewawancara:
1.Jujur di dalam pengisian kuesioner.
2.Cermat.
3.Obyektif dalam menyampaikan pertanyaan, netral, tidak mempengaruhi responden dalam menangkap maksud pertanyaan dan menjawabnya.
4.Jujur dalam mencatat jawaban.
5.Tulislah jawaban responden selengkapnya, persis seperti diucapkan. Tulisan jelas (dapat dibaca siapapun.
6.Menaruh perhatian dan penuh pengertian terhadap responden
7.Sanggup membuat responden tenang dan bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
8.Hargailah responden. Apapun tanggapan saudara tentang dia, lupakanlah itu. Responden sangat penting bagi kita
Persiapan wawancara:
1.Pelajari dan kuasai isi kuesioner.
2.Cobalah menerapkan kuesioner itu pada diri sendiri,untuk menguji apakah kita tahu benar maksud pertanyaan itu. Lalu cobakan pada orang lain(teman)untuk latihan.
3.Pikirkan jam berapa yang tepat untuk menemui responden, mengingat pekerjaan mereka.
4.Ulang-ulangilah membaca instruksi, juga selama wawancara.
Sikap Pewawancara:
1.Netral. Tugas seorang pewawancara adalah merekam informasi tanpa menghiraukan apakah keterangan itu baik, tidak baik, menjemukan, ataupun menyenangkan bagi kita. Tidak menentang atau berinteraksi terhadap jawaban responden, baik dengan kata-kata maupun gerakan misalnya: Menyatakan tidak setuju, heran, merendahkan dan sebagainya(Hindarkan sugesti).
2.Adil;tidak memihak. Sopan dan hormat kepada responden. Semua responden kita perlakukan sama baiknya, siapapun dia. Sikap tersebut memberikan perasaan aman bagi responden untuk menyatakan pendapatnya.
3.Hindari ketegangan. Wawancarailah secara obrolan. Hindarilah kesan-kesan seolah responden sedang diuji. Namun harus waspada, responden diusahakan untuk bercerita kian ke mari. Dengan sopan kita mengembalikan perhatian responden kepada pertanyaan semula.
4.Ramah. Sikap ramah sangat penting. Bermuka cerah, tidak malas. Kesan yang kita berikan akan berpengaruh kepada responden.
Taktik Wawancara:
1.Usahakanlah pada waktu wawancara hanya responden yang hadir. Tidak ada anggota keluarga atau teman responden yang hadir. Pewawancarapun sebaiknya tidak membawa teman.
2.Reaksi atau jawaban pertama terhadap suatu pertanyaan itulah pendapat responden yang sesungguhnya. Kalau responden berubah pendapat setelah pindah ke pertanyaan lain, jawaban atas pertanyaan tadi janganlah dihapus.
3.Jangan tergesa-gesa menuliskan jawaban “tidak tahu”. Sering responden menjawab “tidak tahu”, tetapi sebenarnya dia sedang berfikir, karena itu tunggulah sejenak. Disini Pewawancara harus sabar.
4.Pada jawaban “Ya” atau “tidak”, sering responden menambahkan keterangan “Ya,kalau…”,”Ya,tetapi tidak…”, dalam hal ini tulislah lengkap, meskipun ini untuk jawaban tertutup.
5.Tulislah dengan lengkap semua komentar responden. Kata-kata yang diucapkan untuk melukiskan perasaannya adalah sangat penting.
6.Jawaban responden harus dimengerti maksudnya sebelum dicatat. Kalau belum jelas tanyakan lagi. Jawaban harus khusus, jangan terlalu umum ataupun mempunyai dua arti.
“Saya suka karena itu baik”,”Saya tidak suka”atau”Karena menarik”.
7.Usahakanlah sambil menulis tetap berbicara. Berikanlah pertanyaan yang mengajak dia berfikir. Membiarkan responden terlalu lama, dapat menimbulkan kebosanan.
8.Selesai wawancara, periksalah koesioner dengan teliti, untuk menjaga agar tidak ada nomor-nomor yang terlampaui.